DEFINISI BENCANA
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (Definisi bencana menurut
UU No. 24 tahun 2007). Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur,
yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang di picu oleh suatu
kejadian.
Posisi Geografis Indonesia
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia,
memiliki lebih dari 128 gunung berapi aktif, dan sekitar 150 sungai,
baik besar maupun kecil, yang melintasui wilayah padat penduduk. Danau
toba yang terkenal itupun sebetulnya sebuah
Caldera atau lubang
dipermukaan bumi yang diakibatkan oleh gempa vulkanik. Bila luas danau
toba mencapai 100 kilometer persegi, bisa dibayangkan betapa besar gempa
tersebut, yang konon terjadi sekitar 74000 tahun lalu.
Mari kita ingat beberapa catatan bencana alam besar yang pernah di alami negeri tercinta ini, sbb:
- 1815, Gunung tambora meletus. Jumlah korban saat itu tidak
tercatat dengan baik, namun dapat dipastikan melebihi jumlah korban
letusan gunung krakatau.
- 1883, Gunung krakatau meletus, mengakibatkan tsunami dan
menghilangkan lebih dari 36000 jiwa. Letusan ini menjadi catatan sejarah
dunia tersendiri karena tsunami yang diakibatkan mencapai hingga Hawaii
dan Amerika Selatan.
- 1930, Gunung merapi meletus. Mengakibatkan 1300 orang harus kehilangan nyawa
- 1963, Gunung Agung Meletus. Menewaskan sekitar 1000 jiwa.
- 2004, Gempa dan Tsunami melumatkan aceh dan kawasan sekitarnya serta
menewaskan sekitar 170 ribu jiwa, jumlah terbesar yang tercatat dalam
sejarah modern bencana alam indonesia.
- 2005, Gempa di Nias Sumatera tanggal 28 Maret 2005 mengakibatkan sekitar 1000 orang meninggal
- 2006, Gempa di Yogyakarta, menewaskan sekitar 5.782 jiwa
- 2007, Gempa di Bengkulu - Sumatera tanggal 12 september 2007 yang mengakibatkan sekitar 70 penduduk tewas.

Itu semua belum termasuk bencana banjir, tanah longsor, angin
topan dan sebagainya. Dan yang penting harus tertanam dibenak kita,
bencana bukan hanya bencana alam, bencana dapat terjadi karena faktor
alam maupun non alam seperti budaya, agama, dan tentu saja manusia. Di
indonesia, risiko bencana dapat disebabkan oleh faktor seperti:
- Geologis, (gempa, tsunami, letusan gunung berapi),
- Hydrometeorologis (banjir, tanah longsor, kekeringan, angin topan),
- Biologis (wabah penyakit, penyakit tanaman, penyakit ternak, hama tanaman),
- Kegagalan teknologi (kecelakaan industri dan transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia), dan
- Faktor sosial politik (konflik horisontal, terorisme, ideologi, religi).
POTENSI ANCAMAN BENCANA
Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia
(man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain:
- Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards)yang
menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction
(UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological
hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya
biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards)
dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation)
- Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana
- Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan
yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua
Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik
(volcanic arc) yang
memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa - Nusa Tenggara – Sulawesi, yang
sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian
didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus
rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir
dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa
Indonesia merupakan salah
satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih
dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).
Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng
tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera.
Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik
ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di
Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di
sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito,
1994). Selama kurun waktu 1600–2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang
90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh
letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk.,
2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi
bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau
Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di
Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi.
Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu
tahun 1600–2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di
antaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung
berapi di bawah laut.
Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis
dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan
cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti
ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang
relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi
tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa
akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi
seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring
dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan
lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah
kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor
dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di
Indonesia. Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir
bandang di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah
lainnya. Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain
sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal, proses
pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem.
Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam
(terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber
daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya
hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber
daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik
sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.
Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan
peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena
kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan
teknologi yang berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri
dan terjadinya wabah penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin
tinggi. Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor
keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2004 mencapai 220 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok,
agama dan adat-istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa
Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan
penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan
ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi
kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial.
Kondisi ini potensial menyebabkan terjadinya konfl ik dalam masyarakat
yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.
JENIS-JENIS BENCANA :
BENCANA GEMPA BUMI (Earth Quake)
Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan
energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi
secara tiba-tiba. Penyebab Terjadinya Gempa Bumi:
- Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
- Aktivitas sesar di permukaan bumi
- Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
- Aktivitas gunung api
- Ledakan Nuklir.
Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa
dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut
dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat
menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya
tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak
permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa
kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir akibat
runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.
Gejala dan Peringatan Dini,
- Kejadian mendadak/secara tiba-tiba
- Belum ada metode pendugaan secara akurat
Tips Penanganan Jika Terjadi Gempa Bumi,
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.
- Di dalam rumah, Getaran akan terasa
beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan
keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk
melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki
meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan
kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
- Di sekolah, Berlindunglah di bawah kolong
meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa
mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu,
carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.
- Di luar rumah, Lindungi kepada anda dan
hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan
industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan
reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun
yang anda bawa.
- Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall, Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.
- Di dalam Lift, Jangan menggunakan lift
saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran
gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika
lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda
terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan
interphone jika tersedia.
- Di kereta Api, Berpeganganlah dengan erat
pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta
dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari
petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau
stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
- Di dalam Mobil, Saat terjadi gempa bumi
besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan
kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi
persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti
instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari
mobil, biarkan mobil tak terkunci.
- Di gunung/pantai, Ada kemungkinan longsor
terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir
pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan
tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
- Beri pertolongan, Sudah dapat diramalkan
bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena
jarak dan waktu tempuh petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan
mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah
memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar
anda.
- Dengarkan informasi, Saat gempa bumi besar terjadi,
masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting
sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan
informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari
pihak yang berwenang atau polisi. Sebaiknya tidak bertindak karena
informasi orang atau sumber yang tidak jelas.
Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi:
- Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di daerah rawan gempa.
- Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
- Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
- Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
- Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.
- Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.
- Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara-cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.
- Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan
masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan
pertolongan pertama.
- Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
- Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.
- Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
- Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
- Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.
BENCANA TSUNAMI
Tsunami berasal dari bahasa Jepang.
"tsu" berarti pelabuhan, "nami" berarti gelombang sehingga secara umum
diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan.
Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang
yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan
impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau
longsoran.?Kecepatan tsunami yang naik ke daratan (run-up) berkurang
menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air?tsunami yang pernah
tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yang terjadi pada saat
letusan gunung api Krakatau tahun 1883.
Penyebab terjadinya Tsunami:
- Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar dibawah air (laut/danau)
- Tanah longsor didalam laut
- Letusan gunung api dibawah laut atau gunung api pulau.
Gejala dan peringatan dini tsunami:
- Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang dengan energi yang sangat kuat.
- Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa bumi besar dan susut laut.
- Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya? gempa bumi sebagai
sumber tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan
gelombang gempa jauh lebih besar dibandingkan kecepatan tsunami.
- Metode pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi.
- Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah terjadinya gempa bumi besar di bawah laut.?
Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya,
akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami
sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri sebelumnya.
Penyelamatan Diri Saat Terjadi Tsunami
Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak
datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi
kenyamanan menikmati pantai dan lautan. Namun jika berada di sekitar
pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut
secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke
tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil
memberitahukan teman-teman yang lain. Jika sedang berada di dalam perahu
atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah
terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut. Jika
gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun
ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang.
Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama
pada korban.
Strategi Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana:
- Peningkatan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.
- Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya tsunami.
- Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami).
- Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko.
- Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredam gaya air tsunami.
- Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah
pemukiman yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari
ketinggian tsunami.
- Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal di
pinggir pantai tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara
penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami.
- Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.
- Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami.
- Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami.
- Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.
- Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinyan
tsunami kepada petugas yang berwenang : Kepala Desa, Polisi, Stasiun
Radio, SATLAK PB maupun institusi terkait
- Melengkapi diri dengan alat komunikasi.
BENCANA LETUSAN GUNUNG API
Adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang
dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api
berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas
lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu
yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang
merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah
di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi. Setiap
gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis
muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk
tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi
kehidupan. Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan
mematikan.
Bahaya Letusan Gunung Api di bagi menjadi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu :
Bahaya Utama (Primer)
- Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan
bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi
dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan
gunung awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara
300 - 700? Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi, > 70 km/jam
(tergantung kemiringan lereng).
- Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik)
berlangsung. Jauh lontarannya sangat tergantung dari besarnya energi
letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi
(>200?C), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm
sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk
hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik".
- Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang
berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasir halus) yang
diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung
dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat
berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan
tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam
sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat.
- Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid
(cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 - 1200?C. Karena cair,
maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang
dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan
beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu.
- Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api
sebab gas ini dapat keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan
yang terdapat di daerah gunung api. Gas utama yang biasanya muncul
adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap menyebabkan kematian
adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik letusan gas
beracun adalah Gunung Api Tangkuban Perahu, Gunung Api Dieng, Gunung
Ciremai, dan Gunung Api Papandayan.
- Tsunami, umumnya dapat terjadi pada gunung api pulau, dimana saat
letusan terjadi material-material akan memberikan energi yang besar
untuk mendorong air laut ke arah pantai sehingga terjadi gelombang
tsunami. Makin besar volume material letusan makin besar gelombang yang
terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunung Krakatau
tahun 1883.
Bahaya Ikutan (Sekunder) Gunung Api
Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah
proses peletusan berlangsung. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi
penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian
atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan
terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah
sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.
Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi
- Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.
- Membuat perencanaan penanganan bencana.
- Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.
- Mempersiapkan kebutuhan dasar
Jika Terjadi Letusan Gunung Berapi
- Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
- Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
- Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
- Jangan memakai lensa kontak.
- Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
- Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi
- Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
- Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
- Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin
Mitigasi Bencana Gunung Api
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
- Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam
menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil
pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi
SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan
ke pemda setempat.
- Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi
peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan
dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi,
melakukan pemeriksaan secara terpadu.
- Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan
jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah
penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
- Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika,
dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan
dokumen lainya.
- Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah
serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk
sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan
penyuluhan langsung kepada masyarakat.
BENCANA TANAH LONGSOR
Longsoran merupakan salah satu jenis
gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni
atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau
batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada
gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Penyebab
longsoran dapat dibedakan menjadi penyebab yang berupa :
- Faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng.
- Proses pemicu longsoran.
Gangguan kestabilan lereng ini dikontrol oleh kondisi morfologi
(terutama kemiringan lereng), kondisi batuan ataupun tanah penyusun
lereng dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng. Meskipun suatu
lereng rentan atau berpotensi untuk longsor, karena kondisi kemiringan
lereng, batuan/tanah dan tata airnya, namun lereng tersebut belum akan
longsor atau terganggu kestabilannya tanpa dipicu oleh proses pemicu.
Proses pemicu longsoran dapat berupa :
- Peningkatan kandungan air dalam lereng, sehingga terjadi
akumulasi air yang merenggangkan ikatan antar butir tanah dan akhirnya
mendorong butir-butir tanah untuk longsor. Peningkatan kandungan air ini
sering disebabkan oleh meresapnya air hujan, air kolam/selokan yang
bocor atau air sawah kedalam lereng.
- Getaran pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan, penggalian,
getaran alat/kendaraan. Gempa bumi pada tanah pasir dengan kandungan air
sering mengakibatkan liquefaction (tanah kehilangan kekuatan geser dan
daya dukung, yang diiringi dengan penggenangan tanah oleh air dari bawah
tanah).
- Peningkatan beban yang melampaui daya dukung tanah atau kuat geser
tanah. Beban yang berlebihan ini dapat berupa beban bangunan ataupun
pohon-pohon yang terlalu rimbun dan rapat yang ditanam pada lereng lebih
curam dari 40 derajat.
- Pemotongan kaki lereng secara sembarangan yang mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga.
Strategi dan upaya penanggulangan bencana tanah longsor :
- Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya
- Mengurangi tingkat keterjalan lereng
- permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan
airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras
air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar
jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).
- Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling
- Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras -
teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)
- Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak
tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih
dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat
serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan, di
bagian dasar ditanam rumput).
- Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat
- Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan
- Pengenalan daerah rawan longsor
- Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)
- Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.
- Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi cairan).
- Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel
- Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.
BENCANA BANJIR
Banjir adalah dimana suatu daerah
dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar.
Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan
hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun
menimbulkan korban jiwa.
Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia.
Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir
terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir
tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan yang
diatas normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping itu faktor ulah
manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat
(pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan
hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan
pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya.
Kenali Penyebab Banjir sebagai berikut:
- Curah hujan tinggi
- Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
- Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keiuar sempit.
- Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
- Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai.
- Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.
Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir:
- Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
- Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir.
- Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.
- Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program Pengerukan sungai.
- Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
- Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.
Yang Harus Dilakukan Sebelum Banjir,
Di Tingkat Warga:
- Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan
lingkungan sekitar Anda, terutama pada saluran air atau selokan dari
timbunan sampah.
- Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk mengungsi lengkap
dengan fasilitas dapur umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui
koordinasi dengan aparat terkait, bersama pengurus RT/RW di lingkungan
Anda.
- Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim
penanggulangan banjir di tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung
Jawab Posko Banjir.
- Koordinasikan melalui RT/RW, Dewan Kelurahan setempat, dan LSM untuk
pengadaan tali, tambang, perahu karet dan pelampung guna evakuasi.
- Pastikan pula peralatan komunikasi telah siap pakai, guna memudahkan
mencari informasi, meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.
Di Tingkat Keluarga:
- Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah hujan dan posisi air pada pintu air.
- Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: radio baterai,
senter, korek gas dan lilin, selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila
ada.
- Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi, gula, kopi, teh dan persediaan air bersih.
- Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza.
- Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga,
buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air
dan tangan jahil.
Yang Harus Dilakukan Saat Banjir:
- Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana,
- Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.
- Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret
arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang
lebih tinggi.
- Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan
penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.
Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir:
- Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
- Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.
- Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan
lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan
nyamuk.
- Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.
BENCANA ANGIN TOPAN
Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan
kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah
tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah
yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh
perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang
terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan
kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan
kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin
badai.
Gejala dan Peringatan Dini
Angin topan tropis dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagian
besar badai tersebut terbentuk melalui suatu proses selama beberapa jam
atau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca. Monitoring dengan
satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktu
untuk memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistem
cuaca sangat kompleks sehingga sulit dibuat prediksi secara cepat dan
akurat.
Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana:
- Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
- Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin khususnya di daerah yang rawan angin topan
- Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan.
- Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.
- Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai
tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi
serangan angin topan.
- Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.
- Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri
- Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin
- Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.
KEGAGALAN TEKNOLOGI
Adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh
kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam
penggunaan teknologi dan/atau industri.
Penyebab terjadinya kegagalan teknologi:
- Kebakaran
- Kegagalan/kesalahan desain keselamatan pabrik/teknologi
- Kesalahan prosedur pengoperasian pabrik/teknologi
- Kerusakan komponen
- Kebocoran reaktor nuklir
- Kecelakaan transportasi (darat, laut, udara)
- Sabotase atau pembakaran akibat kerusuhan
- Dampak ikutan dari bencana alam (gempa bumi, banjir, dan sebagainya)
Kegagalan teknologi dapat menyebabkan pencemaran (udara, air dan
tanah), korban jiwa, kerusakan bangunan, dan kerusakan lainnya. Bencana
Kegagalan teknologi pada skala yang besar akan dapat mengancam
kestabilan ekologi secara global.
Gejala dan Peringatan Dini Kegagalan Teknologi:
- Kejadian sangat cepat (dalam hitungan detik atau jam) dan secara tiba-tiba
- Desain pabrik/industri harus dilengkapi dengan sistem monitoring dan
sistem peringatan akan bahaya kebakaran, kerusakan komponen/peralatan,
error aplikasi komputerisasi, dan terjadinya kondisi bahaya lainnya.
- Pelepasan bahan-bahan pencemar yang berbahaya pada umumnya tidak
terlalu cepat sehingga memungkinkan untuk memberikan peringatan dan
evakuasi pekerja dan masyarakat sekitarnya.
- Ledakan pabrik dalam beberapa kasus dapat diantipasi.
Tips Penanganan dan Upaya Pengurangan Bencana:
- Kurangi atau hilangkan bahaya yang telah diidentifikasikan
- Tingkatkan ketahanan terhadap kebakaran dengan menggunakan material bangunan ataupun peralatan yang tahan api.
- Bangun daerah penyangga atau penghalang api serta penyebaran asap/pengurai asap.
- Tingkatkan fungsi sistem deteksi dan peringatan dini.
- Perencanaan kesiapsiagaan dalam peningkatan kemampuan pemadaman
kebakaran dan penanggulangan asap, tanggap darurat dan evakuasi bagi
pegawai serta penduduk disekitar.
- Sosialisasikan rencana penyelamatan kepada pegawai dan masyarakat sekitarnya bekerja sama dengan instansi terkait.
- Tingkatkan Kemampuan pertahanan sipil dan otoritas kedaruratan.
- Batasi dan kurangi kapasitas penampungan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan mudah terbakar.
- Tingkatkan standar keselamatan di pabrik dan desain peralatan
- Antisipasi kemungkinan bahaya dalam desain pabrik
- Buat prosedur operasi penyelamatan jika terjadi kecelakaan teknologi.
- Pindahkan bahan/material yang berbahaya dan beracun
- Secara proaktif melakukan monitoring tingkat pencemaran sehingga standar keselamatan tidak terlampaui.
- Persiapkan rencana evakuasi penduduk ke tempat aman
AKSI TEROR DAN SABOTASE
Adalah semua tindakan yang
menyebabkan keresahan masyarakat, kerusakan bangunan, dan mengancam atau
membahayakan jiwa seseorang/banyak orang oleh seseorang/golongan
tertentu yang tidak bertanggung jawab. Aksi teror/sabotase biasanya
dilakukan dengan berbagai alasan dan berbagai jenis tindakan seperti
pemboman suatu bangunan/tempat tertentu, penyerbuan tiba-tiba suatu
wilayah, tempat, dan sebagainya. Aksi teror/sabotase sangat sulit
dideteksi atau diselidiki oleh pihak berwenang karena direncanakan
seseorang/golongan secara diam-diam/rahasia.
Bencana aksi teror/sabotase pada suatu tempat, wilayah, maupun daerah
tidak dapat diperkirakan karena hal itu terjadi secara mendadak dan
dalam waktu yang singkat.
Tips Penanganan Bencana Aksi teror/sabotase:
- Jika mendengar seseorang merencanakan suatu rencana yang
membahayakan jiwa seseorang/orang banyak, segera laporkan kepada pihak
berwenang.
- Tidak ada salahnya selalu waspada dimana pun anda berada.
- Bila melihat seseorang/banyak orang dengan perilaku sangat
mencurigakan tidak seperti biasanya, segera laporkan pada pihak
berwenang.
KERUSUHAN ATAU KONFLIK SOSIAL
Adalah suatu kondisi dimana terjadi
huru-hara/kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu
daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku,
ataupun organisasi tertentu. Indonesia sebagai negara kesatuan pada
dasarnya dapat mengandung potensi kerawanan akibat keanekaragaman suku
bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan, hal tersebut merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik. Dengan
semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu
pertanda menurunnya rasa nasionalisme di dalam masyarakat. Kondisi
seperti ini dapat terlihat dengan meningkatnya konflik yang bernuansa
SARA, serta munculya gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari
NKRI akibat dari ketidakpuasan dan perbedaan kepentingan. Apabila
kondisi ini tidak dikelola dengan baik akhirnya akan berdampak pada
disintegrasi bangsa. Permasalahan ini sangat kompleks sebagai akibat
akumulasi permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
keamanan yang saling tumpang tindih, apabila tidak cepat dilakukan
tindakan-tindakan bijaksana untuk menanggulangi sampai pada akar
permasalahannya maka akan menjadi problem yang berkepanjangan.
Kekhawatiran tentang perpecahan (disintegrasi) bangsa
di tanah air dewasa ini yang dapat digambarkan sebagai penuh konflik
dan pertikaian, gelombang reformasi yang tengah berjalan menimbulkan
berbagai kecenderungan dan realitas baru. Segala hal yang terkait dengan
Orde Baru termasuk format politik dan paradigmanya dihujat dan
dibongkar. Bermunculan pula aliansi ideologi dan politik yang ditandai
dengan menjamurnya partai-partai politik baru. Seiring dengan itu lahir
sejumlah tuntutan daerah-daerah diluar Jawa agar mendapatkan otonomi
yang lebih luas atau merdeka yang dengan sendirinya makin menambah
problem, manakala diwarnai terjadinya konflik dan benturan antar etnik
dengan segala permasalahannya.
Penyebab timbulnya disintegrasi bangsa juga dapat terjadi karena
perlakuan yang tidak adil dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
khususnya pada daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya/kekayaan
alamnya berlimpah/ berlebih, sehingga daerah tersebut mampu
menyelenggarakan pemerintahan sendiri dengan tingkat kesejahteraan
masyarakat yang tinggi.Sebelumnya
Selain itu disintegrasi bangsa juga dipengaruhi oleh
perkembangan politik dewasa ini. Dalam kehidupan politik sangat terasa
adanya pengaruh dari statemen politik para elit maupun pimpinan
nasional, yang sering mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa, sebagai
akibat masih kentalnya bentuk-bentuk primodialisme sempit dari
kelompok, golongan, kedaerahan bahkan agama. Hal ini menunjukkan bahwa
para elit politik secara sadar maupun tidak sadar telah memprovokasi
masyarakat. Keterbatasan tingkat intelektual sebagian besar masyarakat
Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan para elitnya
sehingga dengan mudah terpicu untuk bertindak yang menjurus ke arah
terjadinya kerusuhan maupun konflik antar kelompok atau golongan.
KEBAKARAN
Adalah situasi dimana suatu tempat/lahan/bangunan dilanda api serta
hasilnya menimbulkan kerugian. Sedangkan Kebakaran lahan dan hutan
adalah keadaan dimana lahan dan hutan dilanda api sehingga mengakibatkan
kerusakan lahan dan hutan serta hasil-hasilnya dan menimbulkan
kerugian. Petunjuk Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan,
Bagi Warga:
- Bila Melihat Kebakaran Hutan Dan Lahan, Segera Laporkan Kepada
Ketua Rt dan/atau Pemuka Masyarakat Supaya Mengusahakan Pemadaman Api.
- Bila Api Terus Menjalar, Segera Laporkan Kepada Posko Kebakaran Terdekat
- Bila Terjadi Kebakaran Gunakan Peralatan Yang Dapat mematikan api secara cepat dan tepat
- Tidak Membuang Puntung Rokok Sembarangan
- Matikan Api Setelah Kegiatan Berkemah Selesai
- Gunakan Masker Bila Udara Telah Berasap, Berikan Bantuan Kepada Saudara-Saudara Kita Yang Menderita
Bagi Peladang:
- Hindari Sejauh Mungkin Praktek Penyiapan Lahan Pertanian Dengan
Pembakaran, Apabila Pembakaran Terpaksa Harus Dilakukan, Usahakan
Bergiliran (Bukan Pada Waktu Yang Sama), Dan Harus Terus Dipantau.
- Bahan Yang Dibakar Harus Sekering Mungkin Dan Minta Pimpinan Masyarakat Untuk Mengatur Giliran Pembakaran Tersebut.
GELOMBANG PASANG
Adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal
dan dapat menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama
daerah pinggir pantai. Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya
angin kencang/topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan karena ada
pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan gelombang
pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang pasang sangat berbahaya bagi
kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah yang dapat
menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi gelombang pasang di
laut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut
dengan abrasi.
Karakteristik Terjadinya Gelombang Pasang:
- Angin kencang .
- Terjadinya badai di tengah laut dan menyebabkan terjadinya gelombang pasang di pinggir pantai.
- Perubahan cuaca yang tiba-tiba menjadi gelap
Tips Penanganan Bencana gelombang pasang
- Pemberitahuan dini kepada masyarakat dari hasil prakiraan cuaca melalui radio maupun alat komunikasi.
- Bila sedang berlayar di tengah laut, usahakan menghindari daerah laut yang sedang dilanda cuaca buruk.
- Membuat/merencanakan pengungsian apabila terjadi gelombang pasang di pinggir pantai
- Membuat infrastruktur pemecah ombak untuk mengurangi energi
gelombang yang datang terutama di daerah pantai yang bergelombang besar.
- Tetap tenang jika terjadi gelombang pasang di tengah laut maupun di pinggir pantai
BENCANA KEKERINGAN
Kekeringan adalah hubungan antara
ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan
hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan
diklasifikasikan sebagai berikut:
Kekeringan Alamiah,
- Kekeringan Meteorologis berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim.
- Kekeringan Hidrologis berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.
- Kekeringan Pertanian berhubungan dengan kekurangan kandungan air di
dalam tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu
pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas.
- Kekeringan Sosial Ekonomi berkaitan dengan kondisi dimana pasokan
komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal akibat kekeringan
meteorologi, hidrologi, dan pertanian
Kekeringan Antropogenik, adalah Kekeringan yang disebabkan karena ketidak-patuhan pada aturan, ini terjadi karena :
- Kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat
ketidak-patuhan pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air.
- Kerusakan kawasan tangkapan air, sumber-sumber air akibat perbuatan manusia.
Dari data historis, kekeringan di Indonesia sangat berkaitan dengan fenomena ENSO
(El-Nino Southern Oscilation). Pengaruh
El-Nino lebih kuat pada musim kemarau dari pada musim hujan. Pengaruh
El-Nino pada keragaman hujan memiliki beberapa pola :
- akhir musim kemarau mundur dari normal
- awal masuk musim hujan mundur dari normal
- curah hujan musim kemarau turun tajam dibanding normal
- deret hari kering semakin panjang, khususnya di daerah Indonesia bagian Timur
Kekeringan akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta
hewan. Kekeringan menyebabkan pepohonan akan mati dan tanah menjadi
gundul yang pada musim hujan menjadi mudah tererosi dan banjir. Dampak
dari bahaya kekeringan mengakibatkan bencana berupa hilangnya bahan
pangan akibat tanaman pangan dan ternak mati, petani kehilangan mata
pencaharian, banyak orang kelaparan dan mati, sehingga berdampak
terjadinya urbanisasi.
Gejala Terjadinya Kekeringan:
- Kekeringan berkaitan dengan menurunnya tingkat curah hujan
dibawah normal dalam satu musim. Pengukuran kekeringan Meteorologis
merupakan indikasi pertama adanya bencana kekeringan.
- Tahap kekeringan selanjutnya adalah terjadinya kekurangan pasokan
air permukaan dan air tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi
muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Kekeringan Hidrologis bukan
merupakan indikasi awal adanya kekeringan.
- Kekeringan pada lahan pertanian ditandai dengan kekurangan lengas
tanah (kandungan air di dalam tanah) sehingga tidak mampu memenuhi
kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang
luas yang menyebabkan tanaman menjadi kering dan mengering.
Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana kekeringan:
- Penyusunan peraturan pemerintah tentang pengaturan sistem pengiriman data iklim dari daerah ke pusat pengolahan data.
- Penyusunan PERDA untuk menetapkan skala prioritas penggunaan air dengan memperhatikan historical right dan azas keadilan.
- Pembentukan pokja dan posko kekeringan pada tingkat pusat dan daerah.
- Penyediaan anggaran khusus untuk pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan.
- Pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan
- Memberikan sistem reward dan punishment bagi masyarakat yang
melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan
hutan/lahan.